Beranda › Artikel

TOEFL vs IELTS: Perbandingan Mendalam dan Cara Memilih

Ditulis oleh Indah Rohmayani, konsultan bahasa & penyusun materi Beniso English

Bagikan:

Isi artikel

  1. Dua tes dengan filosofi desain yang berbeda
  2. Perbandingan format secara rinci
  3. Sistem skor yang tidak bisa dikonversi langsung
  4. Gaya bahasa: Amerika vs ragam aksen internasional
  5. Kapan TOEFL lebih masuk akal dipilih
  6. Kapan IELTS lebih masuk akal dipilih
  7. Cara memutuskan lewat simulasi singkat, bukan menebak

Dua tes dengan filosofi desain yang berbeda

TOEFL dan IELTS sama-sama mengukur kemampuan bahasa Inggris untuk keperluan akademik, tapi didesain dengan filosofi berbeda. TOEFL iBT dibangun sepenuhnya berbasis komputer — termasuk bagian Speaking yang dijawab dengan merekam suara ke mikrofon, dinilai kemudian oleh penilai manusia dan sistem otomatis. IELTS mempertahankan elemen wawancara langsung: bagian Speaking dilakukan tatap muka (atau video call) dengan penguji manusia sungguhan, secara real-time.

Perbedaan filosofis ini berdampak nyata ke pengalaman tes: sebagian orang merasa lebih tenang bicara ke layar komputer tanpa tekanan sosial wawancara langsung, sementara sebagian lain justru merasa wawancara manusia terasa lebih natural dibanding bicara sendirian ke mikrofon.

Perbandingan format secara rinci

AspekTOEFL iBTIELTS
Media tesSepenuhnya berbasis komputerAda versi kertas dan komputer
SpeakingDirekam sendiri ke mikrofonWawancara langsung dengan penguji
Aksen dalam listeningDominan AmerikaCampuran: British, Australia, Amerika, dll
Durasi total~2 jam~2 jam 45 menit
Skala skor0-120Band 0-9 (kelipatan 0,5)

Sistem skor yang tidak bisa dikonversi langsung

TOEFL iBT memakai skala 0-120, sementara IELTS memakai skala band 0-9 dengan kelipatan 0,5. Karena skalanya sangat berbeda strukturnya, tidak ada rumus konversi matematis resmi antara keduanya. Institusi yang menerima kedua tes biasanya menerbitkan tabel padanan mereka sendiri untuk keperluan internal — dan angka tabel itu bisa berbeda dari satu institusi ke institusi lain.

Contoh gambaran umum yang sering dipakai (bukan standar resmi): IELTS band 6.5 kadang dianggap kira-kira setara TOEFL iBT 79-93, tergantung institusi. Selalu cek tabel padanan resmi dari institusi tujuanmu, bukan angka umum dari internet.

Gaya bahasa: Amerika vs ragam aksen internasional

TOEFL secara konsisten memakai ejaan dan gaya bahasa Inggris Amerika (misalnya "color" bukan "colour", "organize" bukan "organise"), dan materi Listening-nya dominan aksen Amerika. IELTS jauh lebih beragam: materi Listening bisa memuat aksen British, Australia, bahkan Selandia Baru dalam satu sesi tes yang sama.

Kalau kamu lebih terbiasa mendengarkan konten berbahasa Inggris Amerika (film Hollywood, podcast Amerika), TOEFL mungkin terasa lebih familiar di telinga. Kalau kamu sering terpapar konten British atau aksen internasional lain, keragaman aksen IELTS mungkin tidak terlalu jadi masalah, bahkan bisa jadi keunggulan.

Kapan TOEFL lebih masuk akal dipilih

TOEFL sering jadi pilihan default untuk pendaftaran ke universitas di Amerika Serikat, dan beberapa program di Indonesia (terutama untuk kebutuhan lokal lewat TOEFL ITP) juga lebih terbiasa dengan format dan istilahnya. Kalau kamu sudah nyaman dengan format komputer dan tidak keberatan merekam jawaban lisan sendirian ke mikrofon, TOEFL bisa terasa lebih efisien secara logistik karena seluruhnya dikerjakan dalam satu sesi di depan komputer.

Kapan IELTS lebih masuk akal dipilih

IELTS umum dipakai sebagai syarat visa dan imigrasi ke Inggris, Australia, Kanada, dan Selandia Baru, serta oleh sebagian pemberi beasiswa dan universitas di kawasan itu. Kalau kamu lebih nyaman berbicara langsung dengan orang dibanding merekam jawaban ke layar kosong, format wawancara IELTS sering terasa lebih natural dan kurang canggung, karena ada interaksi dua arah yang sebenarnya, bukan monolog ke mikrofon.

Cara memutuskan lewat simulasi singkat, bukan menebak

Daripada memilih berdasarkan kata orang atau mitos "mana yang lebih gampang", cara paling akurat adalah mencoba contoh soal dari kedua tes secara langsung. Kerjakan satu contoh Reading dan satu contoh Listening dari masing-masing tes, lalu bandingkan sendiri mana yang terasa lebih nyaman dari sisi gaya bahasa dan format.

Keputusan yang paling penting sebenarnya bukan "TOEFL atau IELTS mana yang lebih mudah", tapi "tes mana yang diterima oleh institusi tujuanmu". Cek dulu persyaratan resmi sebelum menghabiskan waktu memilih berdasarkan preferensi pribadi semata.

Terlepas dari tes mana yang akhirnya kamu pilih, kemampuan dasar membaca cepat, memahami struktur kalimat kompleks, dan kosakata akademik tetap jadi fondasi yang sama pentingnya untuk keduanya. Latihan Reading dan Vocabulary di Beniso English membangun fondasi itu, yang tetap relevan meski kamu akhirnya memilih IELTS.

Pertanyaan yang sering muncul

Apakah IELTS lebih mudah dari TOEFL atau sebaliknya?

Keduanya menguji kemampuan yang mirip dengan cara berbeda. Sebagian orang merasa satu format lebih nyaman dibanding yang lain, jadi coba kerjakan contoh soal dari kedua tes untuk melihat mana yang lebih cocok dengan gaya belajarmu.

Apakah skor TOEFL bisa langsung dikonversi ke band IELTS?

Tidak ada rumus konversi resmi karena skala keduanya berbeda struktur. Institusi biasanya punya tabel padanan sendiri untuk keperluan internal mereka, jadi selalu cek langsung ke institusi tujuanmu.

Kenapa TOEFL Listening dan IELTS Listening terasa beda meski sama-sama bahasa Inggris?

TOEFL dominan memakai aksen Amerika, sementara IELTS mencampur beberapa aksen (British, Australia, dll) dalam satu sesi tes, sehingga terasa lebih beragam.

Latihan soal terkait di Beniso English →

Bagikan: